Kamis, 22 Oktober 2009
Faisal Basri, Sang Intelektual Aktivis Beransel
KOMPAS.com - Ada dua kelompok intelektual. Pertama,
kelompok intelektual murni yang ingin mengetahui dan mengkaji semua
persoalan yang digelutinya melalui berbagai kegiatan ilmiah dan
akademis. Kedua, intelektual aktivis yang tidak cukup memahami dan
mempelajari ilmu pengetahuan yang dipelajarinya, tetapi memiliki hasrat
untuk mengubah keadaan.
Faisal Basri termasuk intelektual
aktivis. Dia seorang yang kritis, pragmatis, tetapi tetap berpijak pada
prinsip-prinsip dasar tertentu,” kata Boediono, wakil presiden terpilih
2009-2014, ketika memberikan sambutan pada peluncuran buku Lanskap
Ekonomi Indonesia dan seminar tentang kondisi, tantangan, dan prospek
ekonomi Indonesia pada pemerintahan kedua Susilo Bambang Yudhoyono di
Jakarta, Rabu (7/10) lalu.
Bedah buku dan seminar yang dipandu
moderator Suryopratomo itu juga menghadirkan tiga pembicara, yakni
Firmansyah (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia), Lin Che Wei
(konsultan investasi), dan Anis Baswedan (Rektor Universitas
Paramadina).
Sebelum memulai sambutannya, Boediono membacakan
sebagian puisi karya Faisal Basri berjudul Keniscayaan Perubahan yang
dibuat 1 Januari 1998. Gemuruh semakin menggelegar, Derap perubahan
menghentak-hentak, Sumbat-sumbat telah terpental, Pekik perlawanan tak
terbendungkan, Itulah pertanda era baru akan membentang, Cuma dalam
hitungan bulan....
Buku setebal 622 halaman yang diterbitkan
Kencana Prenada Media Group itu disusun berdua oleh Faisal Basri dan
Haris Munandar. Buku ini berisi kajian dan renungan terhadap
masalah-masalah struktural, transformasi baru, dan prospek perekonomian
Indonesia.
Menurut Boediono, dalam menyampaikan pandangannya,
Faisal Basri tidak pernah sungkan untuk menyampaikan fakta dan data.
Karena itu, adakalanya dia sering ”menabrak” kebijakan pemerintah.
Meski
demikian, dia juga termasuk orang yang pragmatis. Faisal Basri tidak
hanya mengkritik, tetapi juga memberikan solusi yang realistis.
Ransel dan sepatu sandal
Sebagai
ekonom, Faisal Basri juga tidak berpihak pada mazhab tertentu.
”Pikirannya selalu bebas, tidak terikat, pragmatis, kritis, dan
konsisten, tetapi tetap dilandasi prinsip-prinsip dasar tertentu,” kata
Boediono.
Pandangan, komentar, dan tulisan Faisal Basri selalu
menekankan pada tiga hal. Pertama, rasa keadilan yang sangat kuat.
Kedua, fokus pada manusia sebagai point central. Ketiga, selalu mengacu
pada kemaslahatan umum, bukan kepada orang per orang atau kelompok.
Faisal
Basri bukan hanya konsisten dalam tataran abstrak, melainkan juga
konsisten dalam kesehariannya. Dia mampu menyatukan kata dan hati
dengan perbuatannya. ”Ransel dan sepatu sandal sudah menjadi ciri khas
Faisal Basri,” tutur Boediono yang kemudian disambut tepuk tangan
hadirin.
Menyinggung soal buku, Boediono kemudian menyoroti
pandangan Faisal Basri soal BUMN. Pada halaman 410-411 buku Lanskap
Ekonomi Indonesia, Faisal Basri menulis, selama ini BUMN disandera oleh
tiga masalah besar, yakni mismanajemen dan pelemahan etos kerja,
politisasi dan penjarahan, serta masalah korupsi.
Seandainya
tidak ada tiga masalah berat itu, BUMN sebenarnya tidak perlu
diperlakukan secara khusus. Kedudukannya sama saja dengan perusahaan
swasta dan koperasi.
Bahkan, seperti dibayangkan Bung Hatta,
pada hakikatnya keberadaan BUMN itu hanya sementara. Ketika warga
negara biasa sudah bisa menjadi pelaku ekonomi andal melalui perusahaan
swasta ataupun koperasi, BUMN secara alamiah harus minggir. Jadi, peran
pemerintah hanya sebagai regulator dan pembina sehingga tidak perlu
lagi menjadi pelaku langsung dalam perekonomian.
Namun, dalam
kenyataannya BUMN di Indonesia terus hadir dan diperlakukan secara
khusus. Menurut Faisal, besarnya dividen yang diberikan BUMN, yang
jumlahnya lebih dari 100, kepada negara masih kalah dibandingkan dengan
kontribusi pajak dari empat perusahaan rokok.
Faisal Basri
kemudian memberi contoh Pertamina. Biaya produksi minyak di perusahaan
BUMN itu lebih mahal ketimbang di Chevron. Biaya produksi 1 barrel
minyak di Pertamina sebesar 36,1 dollar AS, sedangkan di Chevron hanya
6,8 dollar AS per barrel.
Pada bagian lain, Boediono juga
menyoroti cara pandang Faisal Basri yang bebas dan tidak terikat pada
mazhab ekonomi tertentu. Teori-teori pembangunan mengedepankan
perdebatan mengenai kegagalan pasar versus kegagalan pemerintah.
Di
kebanyakan negara berkembang, mekanisme pasar tidak bisa diandalkan
sepenuhnya. Namun, sebaliknya, pengalaman juga menunjukkan bahwa
keterlibatan langsung pemerintah di dalam perekonomian tidak memberikan
hasil yang lebih baik. Untuk Indonesia, agaknya sulit untuk mengatakan
bahwa krisis ekonomi disebabkan oleh kegagalan pasar.
Menurut
Boediono, Indonesia sudah mampu melampaui krisis keuangan yang
disebabkan oleh kehancuran sektor keuangan global pada akhir tahun 2008
dengan kekuatan sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya jangan mengerdilkan
atau mengecilkan kepercayaan diri sendiri dalam menangani krisis itu.
”Seyogianya
kita bersyukur karena bisa menyelesaikan krisis itu dengan kekuatan
sendiri. Seyogianya kita menghargai siapa pun ini, pemerintah,
masyarakat, dunia usaha bermasa-sama. Jangan justru malah mengerdilkan
kemampuan kita, dengan selalu mencari-cari kesalahan dan mengecilkan
kepercayaan diri sendiri,” ujarnya.
Menurut Boediono,
dibandingkan dengan krisis ekonomi yang dialami Indonesia pada
1997-1998, Indonesia gagal melakukan pemulihan. Padahal, saat itu,
pemerintah harus meminta bantuan pihak lain, terutama Dana Moneter
Internasional (IMF).
Adapun dalam krisis keuangan yang dipicu
oleh pengucuran kredit perumahan bermasalah di Amerika Serikat
(subprime mortgage) tahun 2007 hingga awal 2009, Indonesia memulihkan
perekonomiannya dengan kekuatan sendiri.
”Krisis yang baru
dilewati dengan selamat dan dengan respons sendiri, dengan kerja bangsa
sendiri, tanpa bantuan IMF atau siapa pun. Tidak seperti yang kita
lakukan pada krisis yang terjadi pada 11 tahun lalu, yang sebenarnya
tidak separah krisis kali ini karena bukan krisis global. Kita gagal
meskipun dibantu IMF,” ujar Boediono.
Fasial Basri mengatakan,
Indonesia bisa lolos dari krisis tahun 2008 lebih dikarenakan luck,
bukan karena adanya gebrakan dari pemerintah. Selain itu, sektor
perbankan nasional tidak terkena dampak subprime mortgage secara
langsung.
”Indonesia selamat karena tidak tergantung pada
ekspor. Adapun surplus neraca perdagangan karena impor yang cepat
terpuruk. Daya saing Indonesia juga meningkat karena pada saat yang
sama negara lain mengalami krisis sehingga kondisi ekonominya melemah,”
ujarnya.(gun/ppg/OIN/faj)
|